SEJARAH GKP JEMAAT GARUT PERIODE 1899 - 2025
Periode 1899 – 1934
Penginjilan di Garut perlu dipahami sebagai karya kasih Allah bagi umat di Garut melalui bantuan para Zending, penginjilan di Garut berawal dari permintaan seorang beretnis Tionghoa yaitu Tuan Thung Siong Hung kepada NZV (Nederlandsche Zendingvereeniging). Pada Oktober 1899 Tuan B.M. Alkema diutus untuk melayani sebagai pelayan pada saat itu, ia merupakan seorang Pendeta dari Belanda yang menjalani penginjilannya di Jawa Barat dan memberikan sentuhan yang berbeda dalam penginjilan yang dilakukan serta banyak karya yang dilakukan olehnya seperti menjual buku-buku dan menginjil di kampung-kampung karena ia belajar berbahasa Sunda.
Karya penginjilan Alkema mendapatkan hasil yang cukup baik sehingga pada 4 Juni 1900 dilakukan sakramen baptisan bagi orang pribumi pertama di Garut, mereka yang dibaptis adalah Ibu Enok (Maria), Ibu Miumah dan Bapak Oesman. Pembaptisan tersebut juga menjadi titik balik dalam penginjilan di Garut yang mulai berkembang, lebih lanjut untuk dapat menunjang pelayanan penginjilan ditempatkan seorang Guru Jemaat yaitu Bapak Abednego.
Tercatat sampai pada tahun 1900 penginjilan di Garut sudah beranggotakan 13 jiwa, jumlah tersebut terus meningkat seiring berjalannya waktu, walaupun memang secara jumlah tidak selalu naik. Dalam upaya pengembangan pelayanan bagi umat di Garut ditunjuklah Pdt. C.J. Hoekendijk untuk memimpin pelayanan yang ada di Garut, benih yang sudah ditanam di Garut perlu terus di pupuk dan dikembangkan oleh karena itu pelayanan NZV di Garut tidak hanya berupa penginjilan saja, tetapi juga menyasar pada bidang pendidikan dan medis, salah satunya adalah sekolah padri atau sekolah Zending, yang berfokus dalam pengembangan sumber daya manusia yang ada di Garut, Markus Elia ditunjuk menjadi seorang guru untuk menambah pengajar di Garut, sekolah tersebut didirikan pada tahun 1907. Pada 10-12 September 1907 juga diadakan konferensi para Zendeling di Garut, hal tersebut juga menjadi bagian dari jemaat di Garut dalam upaya memajukan penginjilan di tanah Pasundan.
Karya pelayanan Injil di Garut bisa dikatakan tidak begitu mulus, tercatat Hoekendijk dalam karya pelayanannya dapat membaptis sekitar 50 orang dewasa dan anak-anak, namun kebanyakan dari mereka kembali dan berpaling dari kekristenan karena banyaknya penolakan dan resistensi, di sisi yang lain juga karya pelayanan terus berjalan melalui sekolah padri dan poliklinik yang dijalankan oleh Hoekendijk, namun sepeninggalnya dari Garut poliklinik tersebut tidak berjalan lagi dan hanya sekolah padri yang terus berlanjut , sedikit banyak sekolah padri menjadi bagian dalam karya pelayanan jemaat di garut.
Karya Pelayanan di Garut oleh NZV terus berlanjut pada tahun 1915 Hoekendijk dipindah tugaskan, dalam masa 1915-1920 Garut mengalami kekosongan kepemimpinan, sehingga pelayanan dilakukan oleh para guru jemaat, lalu pada 1920 ditunjuklah Tuan L.M. Van Noppen untuk memimpin jemaat Garut, semenjak kedatangan Noppen ada beberapa perubahan yang terjadi, pertama dalam sisi jumlah jemaat mengalami penambahan jumlah anggota jemaat dari yang semula tahun 1920 berjumlah 54 bertambah menjadi 80 anggota jemaat pada tahun 1924 , kedua gedung gereja yang semula di Ciwalen dipindahkan ke daerah Talun (bangunan gereja sekarang) yang diresmikan bangunannya pada 25 Desember 1925, ketiga dalam sisi organisatoris jemaat di Garut memahami perlunya tata kelola dalam kehidupan berjemaat sehingga untuk pertama kalinya diadakan pemilihan Majelis Jemaat. Salah satu peristiwa juga yang terjadi pada masa pelayanan Noppen adalah konferensi para Zendeling di Garut pada 14-18 September 1925.
Pelayanan Noppen hanya sampai 1928 dikarenakan beliau diperlukan untuk melayani secara penuh di Tasikmalaya, lalu pelayanan di Garut dilanjutkan oleh Guru jemaat Markus Elia, tidak banyak penjelasan tentang pelayanan GJ Markus Elia, lalu pada tahun 1932 pelayanan GJ Markus Elia dilanjutkan kepada GJ Sandjah Madjan, namun pelayanan Madjan juga tidak berlangsung lama hanya sampai pada tahun 1934. Pelayanan selanjutnya dilayani oleh GJ Madi Lampung.
Pada tahun 1934 juga dilakukan pemilihan majelis jemaat, berikut susunan majelis jemaat yang tertulis dalam notula rapat majelis jemaat tanggal 8 November 1934, berikut susunan Majelis Jemaat:
Adviseer : Pdt. L.M. van Noppen Voorzitter : Guru Jemaat Madi Lampung Sekretaris : Bpk. E. Djalimun Bendahara : Bpk. Pachman Lid. (Anggota) : Ibu Sukarsih Ph. Wuowiling Bpk. Djaso Dantjie
Susunan kepengurusan Majelis Jemaat tersebut terus dilanjutkan sampai Jemaat-jemaat asuhan NZV menyepakati kemandirian sebagai gereja yang berdiri sendiri dengan nama Gereja Kristen Pasundan (GKP), dari Garut utusan yang hadir adalah Tuan L.M. Van Noppen dan Bpk. Djaso Dantjie.
Ada beberapa hal yang saya sorot dalam periode ini. Pertama, walaupun secara jumlah jemaat belum dapat dikatakan banyak namun semangat untuk melayani dan menyebarkan injil banyak dilakukan di Garut, salah satunya adalah poliklinik yang diusung oleh Hoekendijk. Kedua, kesadaran jemaat di Garut untuk aktif dalam pelayanan di bawah asuhan NZV yaitu membentuk struktur majelis jemaat sejak tahun 1925 (26 tahun sejak penginjilan pertama), saya melihat hal ini baik mengingat perkembangan penginjilan di Garut tidak selalu mulus. Ketiga, dibangunnya sekolah Zending atau Padri, hal ini menandakan kesadaran baik dari pihak Zending maupun jemaat untuk terlibat juga dalam memajukan kaum muda Gereja.
Periode 1935 – 1950
Pasca menjadi bagian dari GKP, Garut tetap melanjutkan pelayanannya dengan majelis jemaat yang sama seperti tahun 1934, walaupun memang masih banyak hal yang harus dibenahi perihal kemandirian di Garut, dalam laporan Vikariat yang ditulis oleh Vik. Ira Imelda disebutkan bahwa upaya untuk jemaat mandiri terus dilakukan mulai dari kepemimpinan yang dipimpin oleh Majelis Jemaat dengan kesederhanaan yang dimiliki, tanggung jawab dalam pembiayaan gereja melalui persembahan dan karcis (kartu persembahan) dan pengorganisasian gereja melalui program kerja . Tercatat sampai pada 1935 jumlah anggota jemaat yang sudah dibaptis pada bulan Juni terdapat 15 orang dari Garut, 17 orang dari Parakan Muncang dan 3 orang dari Cibatu.
GKP Garut memiliki pendeta pertama yang ditahbiskan yaitu Pdt. Madi Lampung, namun pelayanan beliau tidak berlangsung lama lalu digantikan oleh Bpk. Arsin Dani. Pada masa pelayanan Bpk. Arsin Dani, GKP Garut banyak mengalami perkembangan secara kuantitas melalui pos-pos yang ada, mulai dari Pos Parakan Muncang (sudah ada lebih dulu), Pos Malangbong, Pos Wanaraja, Pos Cisurupan, Pos Singajaya, Pos Tablong, Pos Deudeul dan Pos Bagendit. Namun memang tidak semua pos memiliki bangunan ruangan ibadah, hanya Pos Parakan Muncang saja yang memiliki ruangan ibadah, pos yang lain dilakukan di rumah-rumah jemaat.
Pada periode tahun 1939-1942 Garut mengalami kekosongan pemimpin umat karena Bapak Arsin Dani menjalani pendidikan untuk menjadi pendeta, pada masa kekosongan itu di Garut diperbantukanlah Guru Jemaat Pares Rikin dengan L.M. Van Noppen sebagai pendeta. Sesudah pendidikannya Bapak Arsin Dani akhirnya ditahbiskan di Garut menjadi pendeta jemaat pada 13 November 1942. Sesudah penahbisan Pdt. Arsin Dani pelayanan di Garut tidak bisa dikatakan mudah karena pada masa itu di Indonesia mengalami penjajahan oleh Jepang, saat itu semua gereja-gereja di Indonesia tidak diperkenankan untuk memiliki hubungan dengan gereja luar, sehingga semua komunikasi terputus. Mengingat saat itu kondisi GKP tidak dapat dikatakan mandiri secara penuh, karena kepemimpinan dan keuangan kebanyakan masih ditanggung oleh NZV. Jemaat Garut pun saat itu mengalami kesulitan karena harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada, sehingga secara Teologi, daya dan dana GKP Garut harus berjuang untuk tetap ada dan bertahan.
Pasca pendudukan Jepang di Indonesia pun keadaan Garut tidak bisa dikatakan baik-baik saja karena hampir di seluruh jemaat GKP juga mengalami hal yang sama yaitu kesulitan dan juga tantangan, namun pada tahun 1946 GKP Garut menerima mandat untuk menjadi bagian dalam kepengurusan darurat Raad Ageng yang saat itu harus berhenti, kebanyakan anggota kepengurusan Raad Ageng saat itu diisi oleh pelayan dari Garut, hal ini memperlihatkan bahwa jemaat Garut memiliki semangat untuk dapat mempertahankan eksistensi GKP di Indonesia walaupun harus menghadapi kesulitan dan tantangan yang ada. Puncaknya pada tahun 1947 kebanyakan jemaat Garut harus mengungsi ke Parakan Muncang, dalam pembicaraan yang dilakukan saya dengan salah satu anggota jemaat dari Pos Pelayanan Parakan Muncang yang berusia 91 tahun yaitu abah Jojon, saya menemukan bahwa saat itu kondisinya sangat kacau karena huru-hara yang terjadi di Garut Kota, diceritakan bahwa Pdt. Arifin Dani yang masih kecil harus digendong oleh abah Jojon karena harus secepatnya sampai di Parakan Muncang.
Pasca huru-hara tersebut dan kondisi Indonesia mulai membaik, di satu sisi keadaan Gereja-gereja di Indonesia “kehilangan jati diri” karena harus memulai kembali semua, di Garut pun banyak yang berubah dan perlu menyesuaikan kembali kehidupan berjemaat saat itu, pos-pos yang dulunya ada harus hilang dan sekolah Kristen yang dibangun dahulu beralih fungsi menjadi Sekolah Rakyat (SR).
Periode 1951 – 1998
Pasca kehilangan pos-pos kebaktian yang selama ini dimiliki, GKP Garut meneruskan perjalanan pelayanannya, walaupun memang tidak dapat dikatakan Gereja yang besar mengingat populasi orang-orang yang masuk Kristen juga tidak banyak, oleh karena itu penginjilan yang dilakukan oleh jemaat Garut banyak difokuskan kepada jemaat-jemaat yang sudah ada dan para pendatang, yang mayoritasnya adalah beretnis Tiongkok. Sampai tahun 1959 tercatat jemaat di Garut ada sekitar 356 orang , hal ini dapat terjadi karena mengingat bahwa Kabupaten Garut adalah daerah yang cukup kuat pengaruh agama Islamnya, namun GKP Garut tetap berusaha untuk mempertahankan eksistensinya, salah satu bentuknya adalah semangat penginjilan dalam pendidikan, melalui Yayasan Dharma Bakti (Yayasan milik orang Tiongkok) yang memberikan kepercayaan kepada GKP Garut untuk mengelola sekolah yang dimiliki. Sejak 1963 sekolah tersebut mulai berdiri dan sejak 1966 hingga saat ini GKP Garut mengelola secara penuh Dharma Bakti, dalam pelayanan yang dilakukan sampai saat ini sudah berdiri TK, SD, SMAK (sekarang sudah tutup).
Pelayanan yang dilakukan oleh Pdt. Arsin Dani sejak tahun 1942 telah selesai dan memasuki masa emiritasi pada tahun 1972, kebutuhan pelayanan di GKP Garut perlu dilanjutkan. Jemaat Garut memanggil Pdt. Arifin Dani untuk melanjutkan pelayanan di GKP Garut, Pdt. Arifin Dani yang sebelumnya melayani di GKP Jemaat Cirebon memulai pelayanan di GKP Garut sejak tahun 1972. Karya pelayanan yang dilakukan oleh Pdt. Arifin Dani dan jemaat Garut dapat dikatakan mengalami banyak perkembangan, pada tahun 1972 GKP Jemaat Garut dan gereja-gereja lain di Garut membentuk badan kerja sama yaitu Badan Kerja sama Gereja-gereja Kristen di Garut (BKGKG). GKP Garut menjadi bagian dalam memprakarsai badan kerja sama tersebut. Karya pelayanan terus dilanjutkan melalui diprakarsainya pendirian Sekolah Menengah Atas Kristen (SMAK) di Garut pada tahun 1973.
Karya Pelayanan GKP Garut mengalami kesulitan karena terjadinya gempa bumi pada 2 November 1979, gedung gereja roboh dan jemaat di Garut perlu membangun kembali Gereja, dengan semangat dan kesadaran untuk terus melakukan karya pelayanan Kristus yang sudah dipercayakan kepada jemaat di Garut, sehingga pada 11 Desember 1980 gedung gereja yang dibangun kembali sudah selesai dan dapat diresmikan, gedung gereja yang dibangun kembali kapasitasnya jauh lebih besar dibanding yang sebelumnya dan dengan waktu pembangunan yang relatif cepat.
Tugas pelayanan yang dilakukan oleh Pdt. Arifin Dani dan GKP Garut pada tahun 1991 sudah selesai, hal ini terjadi karena Pdt. Arifin Dani harus mutasi ke GKP Bandung, sehingga karya pelayanan yang sudah dilakukan sejauh ini perlu terus dilanjutkan, keperluan tenaga pelayan juga otomatis dibutuhkan dengan segera. Sejak 20 Januari 1991 (lima bulan sebelum mutasi Pdt. Arifin Dani ke GKP Bandung) GKP Garut memanggil seorang Vikaris, yaitu Vik. Aam Ramelan Sairoen. Selama menjalani masa vikariat di GKP Jemaat Garut, Jemaat tetap memerlukan tenaga pelayan, sehingga Jemaat Garut meminta kesediaan Pdt. Megiana Hanafiah untuk menjadi Pendeta Konsulen di GKP jemaat Garut.
Selama kurang lebih satu tahun sembilan bulan menjalani masa vikariat, Vik. Aam Ramelan Sairoen ditahbiskan pada 19 Oktober 1992. Dengan hal ini mengartikan bahwa karya pelayanan yang dilakukan oleh Pdt. Aam Ramelan Sairoen dan GKP Garut dimulai, selama masa pelayanan yang dilakukan jemaat Garut mengalami banyak perkembangan juga, dimulai dari pembangunan secara fisik dilakukan renovasi bangunan TK-SDK Dharma Bakti pada tahun 1995, lalu berlanjut dengan direnovasinya kantor/sekretariat GKP Garut pada tahun 1996. Perkembangan yang terjadi juga berlanjut dengan kesadaran partisipasi dalam kegiatan-kegiatan baik sinodal maupun klasis, pada tahun 5-8 Juli 1994 GKP Garut menjadi tuan rumah Sidang Sinode ke-XXIII, pada tahun 1995 Jemaat Garut menjadi tuan rumah pertemuan pendeta dan keluarga. Kerjasama antar Gereja juga tetap dilakukan, pada tahun 1993-1995 Pdt. Aam Ramelan Sairoen menjadi ketua BKGKG.
Pada Tahun 1998 juga menjadi masa yang cukup mencekam bagi GKP Garut, ketika terjadi kerusuhan di berbagai daerah di Indonesia, kabupaten Garut juga menjadi ‘daerah merah ’, gereja harus dijaga oleh sejumlah tentara dan juga beberapa anggota jemaat yang berjaga bergantian, hal tersebut dilakukan agar gereja tidak menjadi sasaran oleh orang—orang yang tidak bertanggung jawab. Ada hal lain yang juga terjadi adalah penutupan SMAK, hal ini terjadi karena jumlah guru yang dimiliki tidak dapat memenuhi kuota yang diharapkan kurikulum saat itu dan juga beberapa pertimbangan yang lain sehingga SMAK harus ditutup hingga sekarang.
Pelayanan Pdt. Aam Ramelan Sairoen terus berlanjut dengan karya pelayanan yang dilakukan bersama. Pada tahun 2001 GKP Garut menjadi salah satu posko penanggulangan dan bagian dari tim koordinasi penanggulangan, karena pada saat itu GKP Kalaksanan mengalami penyerangan, terlebih juga saat itu Pdt. Aam Ramelan Sairoen merupakan pendeta konsulen bagi jemaat kalaksanan. Pengembangan pelayanan yang dilakukan oleh GKP Garut juga dilakukan dalam pengembangan sarana pendidikan, melalui perpustakaan Trisola pada tahun 2001.
Periode 1999 – 2020
Pengembangan pelayanan GKP Garut juga dilakukan dalam fokus terhadap penggembalaan bagi umat, oleh karena itu GKP Garut membutuhkan tenaga pelayanan seorang pendeta dengan proyeksi dua tenaga pendeta di jemaat. Pada 1 September 2002 Sdri. Ira Imelda dipanggil unutk menjalani masa vikariat di GKP Garut, selama kurang lebih satu tahun delapan bulan menjalani masa vikariat Vik. Ira Imelda ditahbiskan menjadi pendeta jemaat pada 17 Mei 2004. Pelayanan dengan dua pendeta jemaat berlangsung di GKP Garut selama kurang lebih dua tahun, karena Pdt. Aam Ramelan Sairoen berakhir masa pelayanannya di tahun 2006 dan melanjutkan pelayanannya di GKP Bandung. Selama kurun waktu dua tahun GKP Garut hanya memiliki satu pelayan, lalu pada tahun 2008 Pdt. Megiana Hanafiah diresmikan menjadi pendeta jemaat untuk menambah daya pelayanan di GKP Garut.
Pada tahun 2005 GKP Garut mengalami pergumulan, Pos Pelayanan Leuwigoong mengalami penolakan untuk melakukan peribadahan oleh warga sekitar, dalam kejadian tersebut Pdt. Ira Imelda bersama beberapa majelis jemaat menghadapi warga sekitar yang melakukan penolakan, akhirnya ditetapkanlah bahwa kegiatan peribadahan di Pospel Leuwigoong dapat terus dilanjutkan namun dengan beberapa syarat seperti pembatasan dalam jumlah orang-orang mengikuti peribadahan.
Dalam mengaktualisasikan panggilan pelayanan terhadap pengembangan jemaat di sekitar Garut, sampai pada tahun 2007 GKP Garut sudah memiliki tiga pos kebaktian yaitu: Pos Kebaktian Parakan Muncang, Pos Kebaktian Cibuluh, Pos Kebaktian Leuwigoong . Dalam pelayanannya juga GKP Garut melayani bagi umat yang bekerja di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Kamojang, namun umat yang ada di kamojang bukanlah bagian dari pos kebaktian milik GKP.
Masa pelayanan Pdt. Ira Imelda berakhir pada tahun 2012 dan setahun berselang pada tahun 2013 masa pelayanan Pdt. Megiana Hanafiah juga sudah selesai di GKP Garut. Melalui hal ini juga berarti GKP Garut membutuhkan tenaga pelayan, Sdri. Yosephine Yunita Dewi dipanggil untuk menjadi bagian dalam proyeksi tenaga pelayan di GKP Jemaat Garut, terhitung sejak tahun 2013 sampai 2015 Vik. Yosephine Yunita Dewi menjalani masa vikariat dan ditahbiskan.
Semakin tahun jumlah anggota jemaat dan simpatisan di GKP Jemaat Garut meningkat, kebanyakan anggota jemaat mulai didominasi oleh orang-orang bersuku batak. Kerinduan umat untuk memiliki tempat berkebaktian yang cukup mengakomodir penambahan jumlah jemaat, sehingga pada tahun 2017 dimulailah renovasi gedung gereja, lalu pada tahun 2019 pembangunan dan renovasi gedung gereja sudah rampung dan diresmikan langsung oleh Bupati Kabupaten Garut Bapak Rudy Gunawan dan Ketua Umum Sinode saat itu Pdt. Edward Tureay.
Sampai tahun 2020 pelayanan di GKP Garut sudah menghasilkan banyak hal, namun memang GKP harus kehilangan Pos Pelayanan Leuwigoong, hal ini dikarenakan semakin sedikitnya jumlah anggota jemaat yang beribadah dan akhirnya pada tahun 2018 pos pelayanan leuwigoong resmi ditutup. Tahun 2020 juga menjadi tahun terakhir pelayanan dari Pdt. Yosephine Yunita Dewi, pasca pelayanan oleh Pdt. Yosephine Yunita Dewi GKP Garut dilayani oleh pendeta konsulen yaitu Pdt. Sri Yusuf Wibowo Pujihartanto.
Dalam menjalani pelayanan di Gereja, pada TG PPTG Bab XII Pasal 30 menyatakan bahwa pemimpin pada aras jemaat adalah Majelis Jemaat, lalu pada pasal 31 dijelaskan Majelis Jemaat adalah lembaga kepemimpinan GKP pada aras Jemaat yang beranggotakan penatua dan Pendeta jemaat. GKP Garut khususnya sudah melewati beberapa periode kepemimpinan Majelis Jemaat, pada saat ini terhitung bulan Oktober 2024 Majelis Jemaat di GKP Garut yang memimpin adalah periode 2023 – 2027, susunan MJ dapat dilihat disini:
Periode 2021 – sekarang
Pendeta dan Guru Jemaat yang Pernah Melayani
1899 – 1905 : Pdt. B.M. Alkema 1900 – 1908 : G.J Abednego (Guru Jemaat) 1905 – 1915 : Pdt. C.J. Hoekendijk 1908 – 1932 : G.J. Markus Elia (Guru Jemaat) 1920 – 1928 : Pdt. L.M. Van Noppen 1932 – 1934 : G.J Sandjah Madjan (Guru Jemaat) 1934 – 1935 : G.J Madi Lampung (Guru Jemaat) 1935 – 1936 : Pdt. Madi Lampung 1936 – 1939 : G.J Arsin Dani 1939 – 1942 : Pdt. L.M. Van Noppen (Pendeta Tugas Rangkap) 1942 – 1972 : Pdt. Arsin Dani 1972 – 1991 : Pdt. Arifin Dani 1991 – 1992 : Pdt. Megiana Hanafiah (Pendeta Konsulen) 1992 – 2006 : Pdt. Aam Ramelan Sairoen 2004 – 2012 : Pdt. Ira Imelda 2008 – 2013 : Pdt. Megiana Hanafiah 2013 – 2015 : Pdt. Aam Ramelan Sairoen (Pendeta Konsulen) 2015 – 2020 : Pdt. Yosephine Yunita Dewi 2020 – 2021 : Pdt. Sri Yusuf Wibowo Pujihartanto (Pendeta Konsulen) 2021 – sekarang : Pdt. Sri Yusuf Wibowo Pujihartanto 2025 – sekarang : Pdt. Williams Dikjaya Tanamal
Disusun oleh : Pdt Williams Dikjaya Tanamal (Nov 2025)